Kedua tim memamerkan permainan menarik pada pekan ketiga. Derbi Jatim di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, pada Jumat (18-9-2026) berakhir imbang 1-1. Dari partai ini, kedua tim memetik pelajaran yang sangat berharga.
Bagi Singo Edan, gaya bermain spartan dan mobilitas simultan yang mereka peragakan ternyata masih mampu dipatahkan oleh Macan Putih. Ini merupakan skor imbang kedua yang diraih Arema FC. Sebelumnya, dengan karakter permainan yang identik, tim asuhan Marcos Santos ini juga berhasil menahan imbang PSM dengan skor 3-3.
Sementara itu, Persik selaku tim tamu tampil tanpa rasa takut sedikit pun dalam menghadapi pakem permainan Arema FC dengan kepercayaan diri tinggi. Intensitas tinggi yang ditunjukkan kedua wakil Jawa Timur ini akhirnya menjadi suguhan tontonan yang sangat enak dinikmati.
Kesimpulannya, tim mana pun yang akan melawan Arema FC harus memiliki spirit, taktik, dan energi besar seperti PSM dan Persik. Berikut adalah catatan menarik dari pertarungan tersebut selengkapnya.
Kubu Persik membuat kejutan dengan memilih Andhika Ramadhani sebagai kiper utama. Padahal, jika mengamati performa apik Husna Al Malik di dua laga sebelumnya, kiper muda itu seharusnya layak berdiri di bawah mistar. Namun, tanpa diduga, pilihan jatuh kepada Andhika Ramadhani.
Jika dianalisis, keputusan Persik ini sangat jitu dan cerdik. Untuk menghadapi partai berat melawan Arema FC, dibutuhkan sosok berpengalaman dan bernyali besar. Andhika Ramadhani memiliki semua kriteria tersebut.
Sebagai eks pemain Persebaya Surabaya, penjaga gawang berusia 27 tahun itu dinilai sudah kebal terhadap tekanan mental saat menghadapi Singo Edan. Faktor sejarah persaingan antara Persebaya dan Arema FC inilah yang dimanfaatkan oleh Persik.
Duel Arema FC kontra Persik juga menjadi panggung spesial bagi Zanadin Fariz. Gelandang berusia 22 tahun dengan 20 caps di semua level Timnas Indonesia ini mengejutkan Singo Edan di menit awal laga melalui tendangan geledeknya.
Setelah merobek jala Adi Satryo hanya dalam hitungan menit sejak kick-off, pemuda asal Bekasi ini tampil konsisten sepanjang pertandingan. Zanadin Fariz tidak hanya berperan sebagai jangkar di lini tengah bersama dua kolega asingnya, Imanol Garcia dan Eduardo Barbosa.
Eks pemain Persis itu juga sangat rajin menyisir sisi kiri lapangan dan menusuk dari tengah bersama Bayu Otto. Ia bahkan turut turun membantu pertahanan Macan Putih dari gempuran Singo Edan yang menekan sangat kuat di menit-menit akhir permainan.
Berkat kerja kerasnya, Zanadin Fariz menyabet gelar pemain terbaik versi ILeague. Pada pekan sebelumnya, ia juga dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik saat Persik meraih kemenangan 2-0 atas Garudayaksa FC.
Setelah saling serang dan bertahan, kedua rival bebuyutan ini akhirnya berbagi satu poin dengan skor imbang 1-1. Hasil imbang ini merupakan rekor terbaru dari perseteruan kedua tim asal Jawa Timur tersebut.
Dari sebelas pertemuan sebelumnya, tepatnya sejak Persik promosi ke kasta elite tanah air pada 2020, kedua tim selalu saling mengalahkan. Persik mencatatkan tujuh kemenangan, sedangkan Arema FC mengantongi empat kemenangan.
Menarik untuk ditunggu apakah pada putaran kedua tahun depan, saat Persik berkesempatan menjamu Arema FC, mereka akan menambah catatan kemenangan atau skor seri akan kembali terulang.
