Gelaran FIFA ASEAN Cup 2026 diprediksi akan berlangsung meriah dan kompetitif. Delapan negara yang akan bertanding di kasta Divisi 1 diperkuat oleh pemain naturalisasi. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 80 pemain naturalisasi yang masuk melalui jalur heritage (garis keturunan) maupun perpindahan kewarganegaraan karena telah menetap selama lima tahun di negara tersebut.
FIFA mulai menerapkan regulasi terkait kelayakan perpindahan pemain dari satu negara ke negara lain melalui proses naturalisasi sejak Januari 2004. Sebelum tahun tersebut, aturan mengenai pemain yang ingin membela tim nasional negara tujuan tidak seketat sekarang. FIFA memberlakukan aturan ini guna mencegah praktik perpindahan pemain yang sembarangan dan memastikan adanya ikatan yang jelas antara pemain dengan negara yang akan dibelanya.
Gelaran FIFA ASEAN Cup 2026 akan berlangsung di SUGBK Jakarta dan Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, pada 25 September hingga 5 Oktober mendatang. Pada edisi perdana ini, FIFA ASEAN Cup 2026 dibagi menjadi dua kasta, yaitu Divisi 1 (Premier Division) dan Divisi 2 (Challenge Division).
Divisi 1 terdiri dari dua grup yang masing-masing berisi empat tim. Timnas Indonesia berada di Grup A bersama Singapura, Malaysia, dan Bangladesh sebagai negara undangan dari luar kawasan ASEAN. Sementara itu, Grup B dihuni oleh Thailand, Vietnam, Filipina, dan Pakistan yang juga berstatus sebagai negara undangan.
Terkait jumlah pemain diaspora dan naturalisasi, Filipina menjadi kontestan dengan jumlah terbanyak, yakni 19 pemain. Seluruh anggota The Azkals tersebut berpindah kewarganegaraan murni karena memiliki garis keturunan Filipina. Timnas Indonesia menempati urutan kedua dengan mengerahkan 18 pemain diaspora yang berkarier di Super League dan Liga Eropa. Padahal, Timnas Garuda memiliki Marc Klok yang telah berpindah kewarganegaraan karena durasi tinggal selama lima tahun di Indonesia, namun gelandang Persib tersebut tidak diajak oleh John Herdman dalam ajang ini.
Malaysia berada di urutan ketiga dengan jumlah 12 pemain, yang terdiri dari sembilan pemain heritage dan tiga pemain melalui alih status kewarganegaraan. Ketiga pemain tersebut adalah Bergson da Silva (Brasil), Manuel Hidalgo (Argentina), dan Paulo Josue (Brasil). Paulo Josue dipanggil kembali oleh pelatih Tan Cheng Hoe untuk menggantikan Sergio Aguero yang sedang mengalami cedera hamstring.
Sementara itu, Vietnam membawa delapan pemain naturalisasi dengan rincian lima pemain berstatus heritage dan tiga pemain yang memenuhi regulasi masa tinggal lima tahun. Perpindahan ketiga eks warga negara Brasil ini untuk membela The Golden Stars tergolong unik karena mereka harus menggunakan nama baru khas penduduk Vietnam. Rafaelson berganti nama menjadi Nguyen Xuan Son, Hendrio Araujo menggunakan nama Do Hoang Hen, dan Geovane Magno menggunakan nama Nguyen Tai Loc.
Dua tim undangan dari Asia Selatan, Bangladesh dan Pakistan, masing-masing memboyong delapan dan tujuh pemain heritage. Bangladesh menyertakan tiga pemain andalan, yaitu Hamza Choudhury, mantan pemain Leicester City yang kini memperkuat klub kasta kedua Liga Inggris, Sheffield United; Farhaan Ali Wahid, winger muda berusia 19 tahun jebolan Akademi Chelsea dan Fulham yang sekarang bermain untuk Boreham Wood; serta Shamit Shome, sosok diaspora yang pernah bermain untuk New York Cosmos di MLS Amerika Serikat.
Singapura hanya memiliki tambahan tiga pemain diaspora dan dua pemain naturalisasi. Di sisi lain, Thailand berada di peringkat terbawah dengan hanya tiga pemain heritage. Federasi Sepak Bola Thailand menerapkan aturan yang sangat ketat; mereka hanya menggunakan pemain murni yang memiliki garis keturunan keluarga untuk menjadi anggota tim nasional, bukan pemain dari negara lain melalui regulasi faktor jangka waktu tinggal di negara tersebut.
