Luke Vickery, winger Timnas Indonesia, menjalani debut manis bersama skuad Garuda. Tampil sebagai starter saat menghadapi Singapura, ia langsung memberikan kontribusi nyata berupa assist.
Timnas Indonesia berhasil mengalahkan Singapura dengan skor 2-0 pada laga pertama Grup A Premier Division FIFA ASEAN Cup 2026. Pertandingan tersebut berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Jumat (25/9/2026) malam WIB.
Dua gol kemenangan Timnas Indonesia dicetak oleh Ragnar Oratmangoen pada menit ke-15 dan Ole Romeny melalui eksekusi penalti di menit ke-74.
Winger berusia 20 tahun tersebut dipercaya mengisi posisi penyerang sayap kanan. Pergerakannya menjadi salah satu ancaman bagi pertahanan The Lions.
Pada menit ke-15, Vickery bergerak cepat di sisi kanan sebelum melepaskan umpan silang. Ragnar Oratmangoen yang berada di dalam kotak penalti menyambut umpan tersebut dan mengubahnya menjadi gol.
Setelah mencatat assist, Vickery beberapa kali menebar teror lewat tusukan dari sisi kanan serta umpan silang. Ia akhirnya ditarik keluar pada menit ke-78 dan digantikan oleh Rizky Ridho.
Penampilan apik tersebut mendapat perhatian dari pengamat sepak bola nasional, Luciano Leandro. Menurutnya, Vickery mampu menunjukkan karakter meskipun baru kali pertama mengenakan jersey Timnas Indonesia.
“Menurut saya debut Luke Vickery sangat positif. Untuk pemain yang baru menjalani debut, dia menunjukkan keberanian dan kepercayaan diri,” ujar Luciano, Sabtu (26/9/2026).
“Assist untuk gol Ragnar juga menjadi momen penting karena dia langsung memberikan kontribusi pada pertandingan pertamanya,” lanjut mantan pemain Persija Jakarta dan PSM Makassar itu.
Tak hanya soal kecepatan dan keberanian melakukan penetrasi, Luciano melihat Vickery memiliki kemampuan untuk terlibat dalam permainan kolektif. Hal itu terlihat jelas dari proses terciptanya gol pertama Timnas Indonesia.
“Yang saya suka adalah Luke tidak hanya bermain untuk dirinya sendiri. Dia mampu melihat ruang dan memberikan umpan yang tepat untuk Ragnar,” pujinya.
“Tetapi tentu kita jangan langsung memberikan tekanan terlalu besar kepadanya hanya karena satu pertandingan. Saya melihat Luke sebagai pemain yang masih bisa berkembang dan memberikan variasi dalam permainan Indonesia,” tambah Luciano.
“Sekarang tantangannya adalah bagaimana dia bisa mempertahankan konsistensi, terutama ketika menghadapi lawan dengan tekanan dan intensitas lebih tinggi seperti Malaysia,” pungkas Luciano.
