Pertandingan terakhir penyisihan Grup A yang menentukan nasib Indonesia dan Malaysia masih menjadi perbincangan hangat. Dua partai yang digelar bersamaan pada Kamis (1/10/2026) malam WIB di dua lokasi berbeda tersebut diwarnai dengan hujan gol.
Timnas Indonesia secara heroik mencetak kemenangan 9-2 atas Bangladesh di SUGBK, Jakarta. Sementara itu, di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Malaysia berhasil menghajar Singapura dengan skor 6-0.
Timnas Indonesia akhirnya berhak melaju ke partai final untuk melawan Thailand yang akan digelar pada 5 Oktober mendatang di SUGBK, Jakarta. Kepastian Kevin Diks dkk. lolos ke partai puncak didasarkan pada keunggulan selisih gol dari Malaysia dengan koleksi 11-9.
Regulasi ini diputuskan setelah Timnas Indonesia dan Malaysia sama-sama mengumpulkan tujuh poin. Jumlah gol yang sangat banyak ini mendapat tanggapan objektif dari Raja Isa Raja Akram Shah.
Pengamat sepak bola asal Malaysia ini menjabarkan beberapa faktor yang membuat pertandingan berakhir dengan banyak gol. Berikut adalah analisis dari pelatih yang telah 17 tahun menangani klub-klub di Indonesia tersebut.
Tim asuhan John Herdman tampil sangat agresif di hadapan sekitar 30 ribu pendukung fanatik Timnas Indonesia. Mereka menunjukkan patriotisme tinggi dan mengeluarkan seluruh energi melampaui kekuatan yang mereka miliki.
Saat Malaysia dan Singapura telah mengakhiri pertandingan dengan skor 6-0, duel Timnas Indonesia kontra Bangladesh masih berada di skor 7-2. Dalam sisa dua menit, Timnas Indonesia harus mengejar agregat gol yang dimiliki Malaysia.
Keajaiban pun terjadi dalam durasi waktu tersebut. Kevin Diks mencetak gol pada menit 90+6, kemudian Michell Baker melengkapi kemenangan pada menit 90+7. Hasil akhir ini terasa sulit dinalar dengan akal sehat.
Pelatih berdarah Bugis ini tidak ingin berpolemik mengenai isu pengaturan skor yang ramai dibicarakan di dunia maya. Sebagai praktisi sepak bola, ia memilih untuk fokus pada hal teknis dan nonteknis pertandingan.
“Jika Anda pernah menonton Timnas Indonesia di SUGBK, Anda pasti merasakan kekuatan aura luar biasa dari suporter di sana. Ini adalah stadion megah dengan kapasitas besar. Suara teriakan penonton bisa membangkitkan mental tuan rumah, sekaligus menciutkan nyali lawan. Itu yang pasti dirasakan pemain Timnas Indonesia dan Bangladesh,” katanya.
Raja Isa melanjutkan bahwa suporter Malaysia yang hadir di Bandung juga menjadi semangat besar bagi para penggawa Harimau Malaya untuk menggilas Singapura. “Semangat pemain Malaysia juga dibakar oleh teriakan pendukungnya. Inilah kekuatan suporter fanatik. Jadi, saya tidak ingin berkomentar di luar ranah saya karena isu atau rumor negatif selalu muncul dari sebuah pertandingan,” ucapnya.
Ia mengatakan Indonesia memiliki keuntungan dalam hal peringkat FIFA dan faktor keberuntungan. Faktor keberuntungan ini sering terjadi dalam sepak bola, di mana situasi yang mustahil bisa berubah menjadi kenyataan yang indah.
“Semangat dan ikatan batin di antara para pemain Indonesia untuk membawa kebanggaan bagi negara terlihat jelas. Semua itu menjadi kekuatan yang tak kasat mata, tetapi dampaknya luar biasa bagi Timnas Indonesia. Ruh pemain diaspora Indonesia itu sudah menyatu dengan Tanah Air leluhurnya,” katanya.
Mantan pelatih PSM dan Persipura ini menyebut bahwa materi dan kualitas pemain berperan besar dalam terciptanya skor yang melimpah. Terlebih lagi, tim seperti Bangladesh dan Singapura tidak memiliki daya juang karena peluang mereka untuk lolos ke babak selanjutnya sangat tipis.
“Dari pertandingan Bangladesh sebelumnya melawan Malaysia dan Singapura, saya bisa melihat bahwa mereka tidak terlalu fokus secara taktik atau strategi. Saya menilai Bangladesh menjalani turnamen dengan lebih santai karena target mereka adalah Piala SAFF yang akan mereka jadikan tuan rumah. Saya juga mendapat info bahwa beberapa pemain kunci Bangladesh dilaporkan tidak bugar,” jelasnya.
“Dari perspektif taktis, kemampuan individu pemain Indonesia rata-rata berada di atas pemain Bangladesh. Mereka datang dari liga-liga Eropa yang kualitasnya jauh di atas Asia, terutama di kawasan ASEAN,” paparnya.
Mengenai Timnas Malaysia, Raja Isa mengatakan pelatih Tan Cheng Hoe telah membuktikan bahwa pelatih lokal atau Asia dapat mengelola tim nasional di tingkat internasional. Raja Isa juga merasa bangga karena Harimau Malaya mencatat rekor tak terkalahkan pada edisi perdana FIFA ASEAN Cup 2026.
“Tan Cheng Hoe telah berhasil membangun kohesi dan kebersamaan tim, yang merupakan salah satu faktor di balik kemampuan Malaysia menjaga clean sheet. Secara taktik dan strategi, Tan Cheng Hoe berhasil menunjukkan filosofi permainan Malaysia,” ujar dia.
Ia menambahkan bahwa kehadiran pemain berkualitas seperti Dion Cools, Arif Aiman, Hidalgo, Faisal Halim, dan Bergson juga memberikan dimensi lain bagi Malaysia. “Meskipun transisi defensif masih perlu perbaikan, semangat di antara para pemain Malaysia hampir mirip dengan Indonesia, meskipun pendekatan budaya mereka berbeda. Kemenangan besar atas Singapura dengan mencetak banyak gol juga menjadi sejarah baru dalam derby ini,” tandasnya.
Sementara itu, Raja Isa menilai Singapura terus menampilkan karakteristik mereka dengan menerapkan tekanan segera setelah kehilangan penguasaan bola. Namun, ia mengatakan para pemain Singapura tampak terburu-buru dan kurang berpengalaman dalam persaingan taktis, terutama saat menghadapi situasi satu lawan satu.
“Meskipun mereka sebelumnya berhasil mengalahkan Bangladesh, situasinya berbeda kali ini karena Malaysia mampu memanfaatkan peluang yang mereka ciptakan dengan lebih baik,” katanya.
Pada akhir September dan awal Oktober ini, FIFA telah menyusun program pertandingan internasional bagi tim nasional di seluruh dunia. Terdapat total empat pertandingan pada periode ini dengan jeda waktu yang singkat.
Momentum inilah yang menginspirasi AFC dan FIFA untuk menggelar FIFA ASEAN Cup 2026 bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Karena durasi FIFA Matchday yang pendek, sistem dan regulasi turnamen pun disesuaikan.
Akibatnya, FIFA ASEAN Cup 2026 tidak memberlakukan babak semifinal. Setiap juara grup dari Grup A dan Grup B akan langsung bertemu di babak final, sedangkan peringkat kedua masing-masing grup akan bertanding dalam perebutan tempat ketiga.
Timnas Indonesia akan melawan Thailand untuk memperebutkan gelar juara, sedangkan Malaysia berhadapan dengan Vietnam untuk memperebutkan posisi ketiga.
“Nah, sistem dan regulasi itulah yang membuat tensi pertandingan fase grup di FIFA ASEAN Cup 2026 sangat ketat. Jika ada babak semifinal, keempat tim masih berpeluang masuk ke final. Tapi di turnamen ini berlaku motto ‘hidup atau mati’,” bebernya.
Ya, hidup atau mati. Itulah yang pasti dirasakan oleh pemain Timnas Indonesia dan Malaysia pada pertandingan terakhir mereka.
“Karena pertandingan digelar secara bersamaan, pihak Timnas Indonesia dan Malaysia akan terus memantau setiap momen pertandingan tim lawan. Jadi, saya tidak heran jika Malaysia mencetak gol, pemain Timnas Indonesia juga berusaha mencetak gol karena mereka tahu agregat gol menjadi penentu untuk ke final,” tuturnya.
