Tim Merah-Putih akhirnya berhasil mengakhiri penantian panjang untuk meraih trofi. Kesuksesan ini menjadi pencapaian bersejarah bagi sepak bola tanah air.
Tim Merah-Putih memastikan gelar juara setelah menundukkan Thailand pada final FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5-10-2026) malam WIB. Kedua tim bermain imbang 2-2 pada babak extra time. Pasukan John Herdman kemudian menunjukkan ketenangan dalam drama adu penalti dan menang 4-2.
Bagi pengamat sepak bola nasional, Luciano Leandro, keberhasilan tersebut menjadi momentum penting yang menunjukkan perubahan karakter Timnas Indonesia saat menghadapi tekanan besar.
“Menurut saya, itu adalah malam yang sangat bersejarah bagi sepak bola Indonesia. Setelah enam kali gagal di final, akhirnya Indonesia mampu mematahkan mental block tersebut dan menjadi juara,” ujar Luciano, Selasa (6-10-2026).
Luciano menilai keberhasilan Timnas Indonesia tidak bisa dilihat sebatas hasil dari satu pertandingan. Torehan trofi tersebut merupakan gambaran perkembangan yang telah dibangun sepak bola Indonesia dalam waktu panjang.
“Indonesia menunjukkan karakter berbeda. Tim ini tidak hanya bermain dengan kualitas teknis, tetapi juga dengan mentalitas juara. Dalam laga final, tekanan sangat besar, tetapi pemain tetap fokus, bekerja keras, dan percaya sampai menit terakhir,” katanya.
“Bagi saya, gelar ini bukan hanya tentang memenangkan satu pertandingan. Ini adalah hasil dari proses panjang sepak bola Indonesia,” sebut Luciano.
Gelar tersebut terasa kian spesial karena menjadi trofi pertama Timnas Indonesia di level senior dalam 35 tahun terakhir. Tim Garuda terakhir kali menggondol gelar turnamen resmi pada SEA Games 1991.
Menariknya, pada final SEA Games 1991, Timnas Indonesia juga berhadapan dengan Thailand. Kala itu, skuad Garuda keluar sebagai kampiun usai menang 4-3 melalui babak adu penalti.
Secara permainan, Timnas Indonesia juga menguasai jalannya pertandingan. Mengutip data Flashscore, Tim Garuda mencatat penguasaan bola hingga 64 persen, sedangkan Thailand hanya 36 persen.
Tidak hanya unggul dalam ball possession, Tim Merah-Putih juga sangat agresif dalam menciptakan peluang. Namun, dari total 25 tembakan, hanya sembilan di antaranya yang mengarah ke gawang.
Sebaliknya, skuad Gajah Perang membukukan 12 percobaan sepanjang pertandingan dan hanya empat yang tepat sasaran.
“Para pemain sekarang harus menikmati keberhasilan ini, tetapi setelah itu harus menjadikan gelar ini sebagai awal dari standar baru untuk Timnas Indonesia,” imbuh pria asal Brasil tersebut.
