Timnas Indonesia berhasil memastikan trofi FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand pada partai final di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026) malam WIB. Kedua kesebelasan bermain imbang 2-2 hingga babak perpanjangan waktu. Pasukan John Herdman akhirnya tampil tenang dalam drama adu penalti dan menang dengan skor 4-2.
Pelatih Persekabpas Pasuruan, Bio Paulin, menilai kesuksesan menjuarai turnamen ini menunjukkan bahwa pemain lokal masih memiliki kualitas untuk bersaing di level tertinggi. Bio menyoroti peran penting Egy Maulana Vikri dan Rizky Ridho dalam perjalanan Tim Garuda meraih gelar juara. Keduanya memberikan dampak positif setiap kali diberi kesempatan bermain.
“Kenapa? Kami punya banyak keturunan yang harus lebih bagus, mereka main di tim-tim besar, tapi jangan meremehkan pemain lokal. Pemain lokal juga punya potensi yang sangat bagus untuk bermain di level tertinggi,” ujar Bio, Rabu (7/10/2026).
Kontribusi Rizky Ridho terlihat langsung lewat torehan satu gol dan satu assist selama turnamen. Sementara itu, pergerakan Egy Maulana Vikri berperan dalam lahirnya gol-gol penting Tim Garuda saat menghadapi Bangladesh dan Thailand.
“Jadi, kenapa saya ngomong begini karena kita bisa lihat kemarin ketika ada pergantian Egy Maulana dan Rizky Ridho yang masuk, mereka berani. Berani untuk membawa bola ke depan. Itu yang menjadi faktor utama,” katanya.
Bio menyebut pencapaian Timnas Indonesia semakin istimewa karena berhasil mengakhiri penantian selama 35 tahun untuk meraih trofi di level senior. Kali terakhir Tim Garuda menjadi juara turnamen adalah pada ajang SEA Games 1991.
“Saya sebenarnya tidak suka menilai kinerja orang lain karena saya juga pelatih. Menilai kinerja orang lain itu sangat mudah, tapi ketika menilai kita harus juga positif,” tutur mantan bek Persipura Jayapura itu.
Meski demikian, Bio tetap memberikan catatan terhadap performa Indonesia pada laga final. Ia menilai Tim Garuda seharusnya bisa tampil lebih agresif setelah Thailand bermain dengan 10 orang.
“Strategi yang pelatih kemarin memang tidak agresif, ya. Dengan pertandingan seperti kemarin, sebenarnya mereka harus lebih agresif dan lebih menguasai laga, apalagi lawan tinggal 10 pemain,” ucap pelatih berusia 42 tahun itu.
“Ya, jadi di mana harus stop crossing, lawan yang muncul, ya saya lihat itu pasti ada komunikasi yang kurang dan juga harus evaluasi,” pungkasnya.
