Garudayaksa FC saat ini memiliki amunisi mumpuni di semua lini. Bersaing di kasta teratas memang mengharuskan manajemen merekrut pemain-pemain sarat pengalaman, baik pemain lokal maupun pemain asing.
Salah satu pemain yang menjadi andalan adalah Wahyu Prasetyo. Didatangkan dari Dewa United, Wahyu Prasetyo tidak hanya sekadar menjadi pemutus serangan di jantung pertahanan, tetapi juga mengemban tugas sebagai kapten tim.
Bek kelahiran Batang, Jawa Tengah, ini layak mendapatkan peran lebih mengingat statusnya yang masih tercatat sebagai pemain Timnas Indonesia. Wahyu Prasetyo terakhir kali tampil bersama Timnas Indonesia pada Piala AFF 2026 beberapa waktu lalu.
Sejauh ini, pemain yang akrab disapa Wahyu Pras tersebut telah tampil dalam tiga laga BRI Super League 2026/2027 bersama Garudayaksa FC dengan hasil dua kali imbang dan sekali kalah.
Pada laga selanjutnya, Wahyu Prasetyo dkk. akan menantang Persita Tangerang di Banten International Stadium (BIS), Serang, pada Sabtu (10/10/2026) pukul 15.30 WIB. Mengingat peran krusialnya, pelatih Milos Joksic pastinya akan tetap memainkan defender berusia 28 tahun tersebut sebagai starting XI.
Jam terbang, status kapten, dan label pemain timnas membuat Wahyu Prasetyo tampil lebih percaya diri dalam setiap laga. Apalagi dengan julukan ‘Hulk’ dari rekan-rekan setimnya, pemain kelahiran 21 Maret 1998 ini siap menjadi benteng tangguh dalam menghadapi penyerang-penyerang Persita.
Menurut Wahyu Prasetyo, panggilan ‘Hulk’ sudah lama melekat pada dirinya, bahkan jauh sebelum ia terjun ke sepak bola profesional. “Sejak ikut turnamen futsal di Batang. Itu nama panggilan yang diberikan teman-teman saya di Batang. Mungkin karena saya berbadan besar dan kuat,” kata Wahyu Prasetyo yang menjulang setinggi 185 sentimeter.
Wahyu Prasetyo merasa bersyukur dianugerahi tubuh yang kekar dan kuat. Hal ini sangat membantunya menjalankan tugas, termasuk saat berduel dengan penyerang agresif tim lawan yang didominasi pemain asing bertubuh raksasa.
“Mungkin mereka bilang, ‘Kamu kuat sekali, bro’. Itu saja sih. Selebihnya kita ya profesional lagi,” kata Wahyu Prasetyo.
Bertarung di kasta teratas Indonesia tentu tidak mudah, terlebih bagi tim promosi seperti Garudayaksa FC. Untuk mengurangi tekanan dan memperkuat semangat juang, Wahyu Prasetyo memiliki ritual khusus sebelum turun ke lapangan.
“Tentunya pertama, mendengarkan selawat. Yang terakhir dangdut. Jangan lupa itu, dangdut,” kata Wahyu Prasetyo.
