Pelatih, , mengungkap persiapan matang yang dilakukan timnya untuk menghadapi kemungkinan adu penalti melawan Thailand pada laga final.
John Herdman menegaskan bahwa pemilihan eksekutor penalti tidak dilakukan secara spontan. Tim pelatih sudah memiliki proses dan kriteria khusus untuk menentukan pemain yang dipercaya maju sebagai algojo jika pertandingan harus ditentukan melalui drama adu penalti.
“Kami melalui proses kami. Kriterianya adalah siapa yang mengambil penalti untuk klub mereka dan siapa yang memiliki pengalaman mengambil penalti untuk Indonesia,” ujar John Herdman dalam sesi wawancara eksklusif bersama .
Salah satu nama yang masuk dalam pertimbangan adalah Kevin Diks. Bek Timnas Indonesia tersebut memang memiliki pengalaman sebagai eksekutor penalti untuk klubnya. Selain faktor pengalaman, tim pelatih juga mengumpulkan informasi mengenai kesiapan mental para pemain.
Menurut Herdman, staf pelatih kiper sekaligus spesialis bola mati, Andy, bertugas mengumpulkan informasi tersebut. Data kemudian dipresentasikan kepada seluruh staf teknis sehari sebelum pertandingan untuk menentukan pemain yang dinilai paling siap menghadapi tekanan.
“Kami melihat siapa yang memiliki pengalaman, siapa yang punya persentase penalti yang bagus, dan siapa yang merasa percaya diri. Mereka adalah pemain yang harus kami pilih,” jelasnya.
Persiapan tidak berhenti pada penentuan nama. John Herdman dan stafnya juga menciptakan situasi yang menyerupai tekanan nyata saat mengambil penalti di pertandingan sesungguhnya. Para pemain yang masuk dalam daftar kandidat eksekutor menjalani latihan penalti khusus setelah sesi latihan utama.
Suasana latihan dibuat sengaja tidak nyaman. Musik diputar di sekitar kotak penalti, sementara para staf berdiri di belakang gawang sambil berteriak untuk memberikan tekanan kepada pemain.
“Kami memiliki sekitar 40 staf di belakang gawang. Kami menciptakan suara seperti suasana ramai di GBK,” kata Herdman.
Dalam kondisi tersebut, para pemain dilatih untuk mengontrol emosi dan tetap menjalankan rencana yang sudah ditentukan. Herdman menekankan satu hal penting: eksekutor tidak boleh mengubah keputusan hanya karena melihat gerakan penjaga gawang.
“Kuncinya adalah tidak mengubah pikiran. Anda tidak melihat penjaga gawang lalu berpikir, ‘Saya akan menendang ke kiri atau kanan.’ Anda tetap dengan rencana dan proses Anda. Pemain harus berkomitmen,” tutur Herdman.
Menariknya, simulasi tersebut juga menggunakan sistem eliminasi. Para pemain mendapatkan sejumlah kesempatan untuk mengambil penalti. Mereka yang gagal kemudian harus menjalani kesempatan tambahan untuk membuktikan kembali kesiapan mereka.
Herdman menyebut para pemain yang mampu melewati proses tersebut menjadi kandidat yang dipercaya jika pertandingan benar-benar berlanjut ke adu penalti. “Kami sangat hati-hati dengan momen tersebut. Orang mungkin tidak mengerti detailnya ketika kami mengatakan semuanya adalah sebuah proses,” ujar pelatih asal Inggris tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa keputusan pergantian pemain selama pertandingan turut mempertimbangkan kemungkinan adu penalti. Ada pemain yang tetap dibutuhkan di lapangan karena memiliki peran penting dalam permainan, meskipun sebenarnya masuk dalam daftar eksekutor penalti terbaik.
“Kami membutuhkan mereka di lapangan selama 15 menit pertandingan itu. Kami harus percaya bahwa orang tersebut akan memenangkan duel mereka. Dan salah satu dari mereka melakukannya,” kata Herdman.
Bagi Herdman, seluruh persiapan tersebut merupakan bagian dari keseimbangan antara strategi pertandingan dan persiapan menghadapi situasi terburuk. “Semua sudah dipersiapkan. Semuanya sudah dipersiapkan,” tegasnya.
