Kompetisi BRI Super League telah memasuki pekan ketujuh. Persija Jakarta saat ini kokoh di puncak klasemen dengan mengoleksi 18 poin, dan terus dibayangi oleh Dewa United serta Bali United.
Dalam pertandingan terakhirnya, Persija berhasil meraih kemenangan 2-1 saat menjamu Persik Kediri di Jakarta International Stadium, Senin (26/10/2026). Sementara itu, juara bertahan Persib Bandung mulai mendekati papan atas berkat kemenangan krusial di markas Garudayaksa pada Minggu (25/10/2026).
Ganasnya persaingan di BRI Super League tidak hanya memperebutkan posisi papan atas atau menghindari ancaman zona degradasi, tetapi juga mengenai panasnya kursi pelatih. Terbukti, sudah ada empat pelatih yang menjadi korban pemecatan akibat sengitnya persaingan di BRI Super League 2026/2027.
Menariknya, Persijap Jepara menjadi tim yang paling sering melakukan pergantian pelatih di awal musim ini. Simak ulasan lengkapnya berikut ini:
Korban pertama pelatih yang dipecat musim ini adalah Juan Cortes. Pelatih asal Spanyol tersebut dicopot dari kursi pelatih kepala Persijap pada 14 September 2026 setelah menelan hasil buruk di dua pekan pembuka.
Performa Persijap saat ditanganinya tergolong buruk, dengan catatan kalah 0-2 dari Madura United dan dipermalukan Borneo FC 0-1 di kandang sendiri. Meskipun dicopot dari posisi pelatih, Juan Cortes tetap berada di lingkungan Persijap dan kini ditugasi sebagai direktur teknik.
Kursi pelatih Persijap kemudian diisi oleh Mario Lemos, yang sebelumnya sempat menjadi pelatih Laskar Kalinyamat musim lalu. Namun, Juan Cortes kembali menjabat sebagai pelatih Persijap mulai pekan ketujuh.
Nasib Mario Lemos mirip dengan Juan Cortes, yakni hanya mampu bertahan selama dua pertandingan musim ini. Manajemen Laskar Kalinyamat resmi mengakhiri kerja sama dengan Mario Lemos pada Kamis (15/10/2026).
Langkah ini diambil setelah evaluasi atas dua kekalahan beruntun yang dialami tim, yakni kalah 1-2 dari Persib Bandung dan kekalahan telak 1-6 dari Bali United. Rangkaian hasil tersebut membuat Persijap masih berkutat di zona degradasi dengan catatan nol poin hingga pekan keenam.
Setelah terdepak dari Persijap, pria asal Portugal tersebut kemudian bergabung dengan klub Pegadaian Championship, Persis Solo, sebagai penasihat teknis. Pekan lalu, Persijap Jepara akhirnya berhasil mencetak poin perdana dengan menahan imbang Java United 1-1.
PSIM Yogyakarta juga melakukan langkah serupa. Klub berjuluk Laskar Mataram tersebut mengakhiri kerja sama dengan pelatih asal Belanda, Jean-Paul van Gastel, pada 17 Oktober 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah PSIM hanya mampu mengumpulkan satu poin pada pertandingan pembuka sebelum akhirnya mengalami lima kekalahan beruntun. Musim ini, PSIM mencatat hasil minor selama ditangani Van Gastel.
Hasil tersebut meliputi imbang 1-1 melawan Persita, kalah 0-1 dari Persebaya, kalah 1-2 dari Madura United, serta dibantai Persija 0-4. Kekalahan 1-2 dari PSM di kandang sendiri menjadi puncak pemecatannya.
Saat ditangani Van Gastel, PSIM terbenam di zona degradasi dengan raihan satu poin. Saat ini, tim tersebut sedang ditangani oleh caretaker Guntur Cahyo Utomo dan baru saja meraih satu poin di markas Isen Mulang.
Arema FC juga mengikuti jejak tim lain untuk mendepak pelatih mereka. Manajemen klub berjuluk Singo Edan mengakhiri kerja sama dengan Marcos Santos pada Jumat (23/10/2026).
Pemecatan ini terjadi setelah tim mencatatkan lima laga berturut-turut tanpa kemenangan, dengan kekalahan telak 1-5 dari Persija sebagai puncaknya. Pelatih asal Brasil tersebut dianggap gagal membawa Arema berprestasi musim ini.
Setelah sempat menjanjikan kemenangan telak 4-0 atas Isen Mulang di pekan pertama, performa Arema menurun dengan hasil imbang melawan PSM (3-3), Persik (1-1), dan Bhayangkara FC (2-2). Hal ini disusul dengan kekalahan 1-3 dari Garudayaksa dan 1-5 dari Persija.
Arema sempat keluar dari papan tengah saat ditangani Marcos Santos. Kini, tim tersebut mulai merangkak kembali ke papan tengah berkat kemenangan telak 4-0 atas Dewa United akhir pekan lalu di bawah asuhan pelatih sementara, Andre Caldas.
