Fenomena pemecatan pelatih mulai marak terjadi memasuki pekan ketujuh. Sejauh ini, sudah ada empat juru taktik yang kehilangan pekerjaannya di awal musim. Terbaru, Arema FC memutuskan berpisah dengan Marquinhos Santos pada pekan keenam BRI Super League.
Singo Edan mengalami situasi sulit setelah melewati lima pertandingan tanpa kemenangan. Kondisi ini semakin pelik setelah mereka dihajar Persija Jakarta dengan skor 1-5.
Sebelum momen tersebut, PSIM Yogyakarta juga telah memberhentikan Jean-Paul van Gastel dari posisinya sebagai pelatih kepala. Juru taktik asal Belanda ini terdepak dari Laskar Mataram karena gagal mempersembahkan kemenangan pada lima laga awal.
Sementara itu, Persijap Jepara menjadi tim yang paling sering berganti pelatih pada awal musim. Sejauh ini, Laskar Kalinyamat telah memecat dua pelatih, yakni Juan Cortes dan Mario Lemos, serta Antonio Claudio.
Jika mendalami fenomena ini, ada beberapa faktor yang mendasarinya. Tekanan suporter menjadi salah satu pemicu yang membuat manajemen bertindak tegas untuk mencopot pelatih. Keputusan klub untuk mendepak pelatih di awal musim memang tidak bisa dilepaskan dari desakan pendukung yang sangat terasa.
Sebagian besar klub yang berpisah dengan pelatihnya kerap mendapatkan tekanan tersebut. Sebagai contoh, PSIM Yogyakarta sering kali mendapatkan protes dari suporternya akibat hasil buruk yang diraih Laskar Mataram. Bahkan, suporter PSIM sempat mendatangi manajemen untuk meluapkan kekecewaan mereka.
Momen tersebut terjadi tepat setelah PSIM Yogyakarta kalah dari PSM Makassar pada pekan kelima. Bermain di kandang sendiri, Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Laskar Mataram justru takluk dengan skor 1-2 dari Juku Eja.
Usai laga, para suporter mendatangi Wisma PSIM untuk mendesak manajemen segera mencopot Van Gastel. Langkah ini akhirnya diambil manajemen menjelang pekan keenam dengan menunjuk Guntur Cahyo Utomo sebagai pelatih.
Situasi serupa juga dialami oleh manajemen Persijap Jepara. Keputusan mereka memecat Juan Cortes dan Mario Lemos tidak lepas dari desakan kuat para suporter. Namun, langkah yang diambil manajemen Persijap memang sering kali sulit ditebak.
Setelah sempat menunjuk Juan Cortes di awal musim, mereka kemudian menunjuk Direktur Teknik mereka, Mario Lemos, menjadi pelatih kepala. Sebagai gantinya, Juan Cortes mengisi jabatan sebagai direktur teknik.
Setelah berpisah dengan Mario Lemos pada pekan keempat, mereka menunjuk Antonio Claudio sebagai pelatih. Namun, setelah hasil tidak kunjung berubah, Juan Cortes kembali ditunjuk sebagai pelatih kepala.
Kondisi yang dialami tim-tim tersebut tentu berbeda jika dibandingkan dengan kontestan BRI Super League yang tidak memiliki basis suporter besar. Hal ini terlihat pada dua tim promosi, Isenmulang FC dan Garudayaksa FC.
Garudayaksa FC mengalami situasi buruk di awal musim ini. Berstatus sebagai juara kasta kedua musim lalu, mereka gagal mengamankan kemenangan pada empat pekan awal dengan rekor dua kali imbang dan dua kali kalah.
Kemenangan pertama baru didapatkan Milos Joksic pada pekan kelima setelah menumbangkan Arema FC. Namun, setelah laga tersebut, mereka kembali dihantam dua kekalahan beruntun saat menghadapi Bali United (0-5) dan Persib Bandung (1-2).
Meski begitu, tampaknya nasib Milos Joksic masih aman karena tidak adanya tekanan dari fans. Hal serupa juga dialami oleh Isenmulang FC yang mencatatkan hasil jauh lebih buruk di awal musim.
Isenmulang FC sempat menelan empat kekalahan beruntun di BRI Super League hingga menduduki posisi juru kunci. Meskipun kemudian mulai bangkit dengan catatan satu kemenangan dan dua imbang, hasil tersebut belum menyelamatkan Laskar Tambun Bungai dari papan bawah.
Tim ini juga sempat mendapatkan sanksi pengurangan dua poin di awal musim karena berpindah kandang setelah proses administrasi selesai. Selain itu, masih ada beberapa pelatih yang nasibnya terancam pada pekan-pekan berikutnya.
Hal ini berkaitan dengan hasil negatif yang dialami sejumlah klub pada pekan ketujuh BRI Super League 2026/2027. Salah satu yang layak dinantikan kelanjutan nasibnya adalah Pieter Huistra, arsitek PSS Sleman.
Laskar Sembada sejauh ini hanya mampu mengamankan empat poin dari satu kemenangan dan satu hasil imbang. Empat laga lainnya berakhir dengan kekalahan.
Nasib juru taktik asal Belanda tersebut berada di ujung tanduk saat menghadapi Borneo FC di kandang sendiri pada pekan ketujuh. Jika kembali kalah, tidak menutup kemungkinan Huistra akan menyusul deretan pelatih yang telah dipecat sebelumnya.
Menariknya, di kubu seberang, Borneo FC juga sedang dalam kondisi yang tidak stabil. Meski mencatatkan capaian positif di AFC Challenge League, Pesut Etam dihantui dua kekalahan beruntun di kompetisi domestik setelah kalah dari Java United (1-2) dan Dewa United (1-3).
Apabila kembali menelan hasil buruk pada pekan ketujuh, nasib pelatih mereka, Mauro Jeronimo, bisa saja berujung pemecatan. Ini akan menjadi pertaruhan yang sangat penting bagi kedua klub.
