Sesko menunjukkan tanda-tanda positif setelah kembali ke kondisi terbaiknya. Penyerang asal Slovenia tersebut menjadi starter untuk pertama kalinya sejak Maret dan langsung mencetak gol saat Setan Merah menang 4-0 atas Sabah FK. Gol tersebut menjadi kelanjutan momentum positif Sesko setelah sebelumnya berhasil mencetak gol ke gawang Everton.
Pemain berusia 23 tahun itu perlahan memperlihatkan alasan mengapa kehadirannya di lini depan mampu memberikan dimensi berbeda bagi Manchester United. Sesko mengawali musim dalam kondisi belum sepenuhnya bugar setelah mengalami masalah pada tulang keringnya. Ia sempat hanya tampil sebagai pemain pengganti dalam beberapa pertandingan sebelum akhirnya dipercaya turun sebagai starter saat menghadapi Sabah FK.
Bagi Michael Carrick, kemenangan telak tersebut memang belum bisa menjadi ukuran mutlak kekuatan Manchester United di Liga Champions. Namun, pertandingan itu memberikan satu kesimpulan penting: United terlihat jauh lebih efektif ketika Sesko memimpin lini serang sejak awal laga.
Pertandingan melawan Sabah FK menjadi laga pertama Sesko sebagai starter sejak menghadapi Liverpool pada Maret lalu. Saat itu, ia menyadari bahwa masalah tulang kering yang dialaminya membuatnya tidak bisa terus memaksakan diri untuk bermain. Meskipun ada harapan Sesko bisa kembali bugar tepat saat musim Liga Premier dimulai, kondisinya belum memungkinkan untuk menjadi starter.
Akibatnya, ia hanya tampil sebagai pemain pengganti pada laga pembuka melawan Hull, serta pertandingan berikutnya kontra Ipswich dan Everton. Kondisinya berubah saat menghadapi Sabah FK. Dengan kebugaran yang sudah lebih baik, Sesko mampu menunjukkan keunggulan fisik yang membuat lini pertahanan lawan kesulitan mengantisipasinya.
Dengan tinggi badan 196 cm, Sesko memiliki atribut fisik yang berbeda dibandingkan penyerang Manchester United lainnya. Ia mampu menekan garis pertahanan lawan agar mundur, sulit direbut saat menguasai bola, serta berani melakukan penetrasi langsung ke arah pertahanan.
Keberadaan Sesko menjadi semakin krusial karena absennya Amad Diallo. Hal ini membuat Carrick kehilangan opsi untuk menempatkan Bryan Mbeumo sebagai ujung tombak, seperti yang dilakukan selama pramusim. Matheus Cunha memang memiliki kemampuan untuk memainkan peran tersebut, tetapi karakter permainannya cenderung membuatnya bergerak melebar dan turun menjemput bola.
Pergerakan Cunha tersebut terkadang meninggalkan ruang kosong di area terdepan Manchester United. Sesko menawarkan solusi berbeda karena pergerakannya lebih mampu menjaga ancaman langsung terhadap garis pertahanan lawan. Kemampuannya mencetak gol juga sudah terlihat saat menghadapi Everton melalui sundulan jarak dekat yang sempat membuka peluang kemenangan bagi United, sebelum akhirnya Ainsley Maitland-Niles mencetak gol spektakuler pada menit-menit akhir.
Ketika melawan Sabah FK, Sesko kembali menunjukkan ketajamannya. Setelah sempat mengancam melalui aksi back-flick pada babak pertama, ia kemudian memanfaatkan umpan terobosan Bryan Mbeumo. Sesko melewati kiper Stas Pokatilov dengan tenang, lalu menyelesaikan peluang ke gawang yang sudah kosong.
