Bombastikkabausirah.com – Jumat (06/08/2021)

Pebulu tangkis putri Indonesia, Greysia Polii, akhirnya dapat mewujudkan mimpi untuk meraih medali emas di Olimpiade. Greysia Polii yang tampil bersama Apriyani Rahayu berhasil meraih medali emas di Olimpiade Tokyo 2020.

Ganda putri Tanah Air nomor 6 dunia itu menjadi juara seusai membekuk Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (China) di Musashino Forest Sport Plaza, Senin (2/8/). Greysia/Apriyani menang dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-15 dalam tempo 57 menit.

Bagi Greysia Polii, keberhasilan ini sekaligus mengakhiri penantian panjangnya untuk bisa beprestasi di ajang Olimpiade. Sebelumnnya, pebulu tangkis berusia 33 tahun itu belum berhasil ketika berjuang di London 2012 dan Rio 2016.

Olimpiade London 2012 menjadi kenangan yang paling pahit bagi Greysia Polii. Greysia Polii yang saat itu berpasangan dengan Meiliana Jauhari mengalami keterpurukan karena didiskualifikasi.

Mereka didiskualifikasi di London 2012 lantaran dianggap melanggar kode etik. Greysia Polii/Meiliana Jauhari dianggap sengaja mengalah saat menghadapi Ha Jung-eun/Kim Min-jung (Korea Selatan) di fase grup.

Tersingkir dengan cara yang tak terhormat membuat Greysia merasa begitu terpuruk hingga sempat berpikir untuk pensiun. Namun, atlet kelahiran Jakarta itu pada akhirnya memutuskan untuk tidak menyerah, dan berjuang bersama Nitya Krishinda Maheswari di Olimpiade Rio 2016.

Meski belum juga berhasil di Rio 2016 lantaran terhenti di perempat final, Greysia bersyukur tak jadi gantung raket dan dapat terus melanjutkan kariernya.

“Olimpiade London 2012 menjadi titik terendah dalam hidup saya, merupakan hal yang terburuk yang pernah saya alami,” tulis Greysia dalam unggahan Instagram-nya pada tahun 2016.

“Didiskualifikasi dari event terbesar dunia (Olimpiade) membuat saya ingin menyerah, merasa tak berguna dan tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadap hidup saya.”

“Keinginan untuk berhenti berkarier di bulutangkis menjadi satu-satunya pilihan saya waktu itu, tetapi itu tidak pernah terjadi sampai saya memutuskan untuk mencoba kembali sekali lagi dan berharap untuk bisa lanjut sampai Olimpiade Rio 2016.”

“4 tahun telah dilewati, banyak hal yang saya lalui sebelum saya benar-benar berada di Olimpiade Rio 2016.”

“Sebelum saya berangkat ke Rio saya berjanji pada diri saya untuk menghilangkan rasa trauma dan menikmati setiap detik momen pertandingan Olimpiade dan tentu keinginan saya untuk bisa menang kali ini.”

“Tapi, keinginan dan realita tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan, sedih dan kecewa. Kekalahan di quarterfinal membuat saya sadar bahwa di Olimpiade kali ini SAYA KALAH TERHORMAT dan saya menerima kekalahan itu dengan lapang dada.”

“Saya sangat bersyukur 4 tahun lalu saya tidak jadi memutuskan untuk berhenti bermain dan tidak menyerah setiap hari untuk menjalani semua proses yang ada.”

“Kelelahan itu pasti karena di balik semua kesuksesan ada proses yang panjang dan menguras hati tenaga pikiran harus kita jalani.”

“Bagaimanapun saya tidak tahu akan terjadi apa di kehidupan selanjutnya, tapi satu hal yang pasti bahwa saya selalu mengejar untuk memperbaiki diri saya menjadi lebih baik setiap hari dan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik selama saya masih diberikan kesempatan dalam menjalani kehidupan ini.”

Pada tahun 2017 setelah Olimpiade Rio 2016 berakhir, Greysia Polii kembali berniat untuk gantung raket. Keputusan Greysia juga tak terlepas dari kondisi pasangannya saat itu, Nitya Krishinda Maheswari, yang mengalami cedera.

Akan tetapi, Greysia akhirnya tak jadi gantung raket usai sang pelatih memintanya menjadi duet Apriyani Rahayu. Dia diminta untuk membuat Apriyani semakin berkembang. Pada akhirnya, Greysia tetap melanjutkan kariernya hingga menuai berbagai prestasi bersama Apriyani.

“Perjalanan yang panjang bagi saya. Ini tentang bagaimana keinginan Anda untuk bertahan dan bertahan,” ucap Greysia seusai laga semifinal Olimpiade Tokyo 2020 dilansir situs BWF pada 31 Juli.

“Dia (Apriyani) muncul secara tiba-tiba pada 2017 ketika saya akan pensiun setelah Rio 2016.”

“Pada 2017, saya berada di tim nasional dan akan berhenti ketika pasangan saya (Nitya Krishinda) cedera dan menjalani operasi.”

“Namun, pelatih saya mengatakan tunggu sebentar dan bantu pemain muda untuk bangkit, saat itulah Apriyani datang.”

“Kemudian, kami memenangkan Korea Open dan Thailand Open dan begitulah cepatnya kami datang. Saya seperti merasa, ya Tuhan, saya harus berlari selama empat tahun lagi!” katanya menegaskan.

Pada akhirnya, Greysia Polii bersama Apriyani sukses menyabet medali emas di Olimpiade Tokyo 2020. Ini membuat kedua pasangan tersebut menjadi ganda putri Indonesia pertama yang sukses meraih medali emas di pesta olahraga multicabang paling bergengsi. Menurut Greysia, pencapaian ini merupakan mimpi yang menjadi kenyataan baginya.

“20 tahun yang lalu ketika saya berusia 13 tahun, saya tahu Indonesia belum membuat sejarah di ganda putri dan saya bersabar,” ujar Greysia seusai laga final hari ini.

“Saya tahu saya dilahirkan untuk menjadi pemain bulu tangkis dan saya memiliki keyakinan bahwa saya ingin membuat sejarah di bidang ini.”

“Tuhan telah memberi saya mimpi dan keyakinan di hati saya bahwa saya memilih ini.”

“Ketika orang berkata: ‘Anda tidak akan berhasil, Indonesia tidak memiliki sejarah di ganda putri.’ Tentu saja China dan Korea kuat di lapangan.”

“Lalu, kita semua tahu apa yang terjadi di London 2012, saya bangkit di Rio 2016, tapi belum juga berhasil mendapat medali.”

“Saya tetap sabar dan berkomitmen. Dibutuhkan komitmen untuk meraih mimpi dan emas. Di sinilah kami sekarang. Keluarga saya juga untuk tidak menyerah, jangan berhenti,” tutur Greysia Polii.

○○○○

Sumber : kompas.com

Pict : 📷 @greyspolii