Bombastikkabausirah.com

IM 88 yang kita kenal sebagai Irsyad Maulana (26) merupakan winger tim Kabau Sirah sekaligus putra daerah ranah minang. Bergabung dengan Semen Padang FC sejak tahun 2014 dari Arema Cronous Irsyad langsung menjadi idola pecinta sepakbola Sumatera Barat berkat gol-gol dan permainan ciamiknya.

Memulai karir di kota kecil Payakumbuh Irsyad yang kala itu masih sangat belia, bergabung dengan SSB Singa Harau. Berkat penampilannya yang sangat menonjol dibanding rekan-rekan seusianya pria kelahiran 27- September-1993 itu dengan sangat mudah bergabung dengan PPLP (Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar) Sumatera Barat. Pada tahun 2009-2011 Irsyad Maulana bergabung dengan tim junior Semen Padang, dan tak lama kemudian ia dipanggil memperkuat tim PON Sumatera Barat yang berlangsung di Riau 2012.

Ditahun itu juga bakatnya tercium oleh Rahmad Darmawan dan langsung mengajaknya bergabung dengan Pelita Jaya U-21. Bahkan Irsyad berhasil menembus timnas junior. Semen Padang terpaksa melepasnya karena saat itu ada dualisme kompetisi dan Semen Padang memilih untuk bergabung dengan kompetisi IPL ( Resmi ) yang tidak memiliki kompetisi level junior. Sementara untuk menembus tim senior masih tergolong berat bagi Irsyad kala itu. Setahun kemudian ia bergabung dengan Arema Cronous, disinilah bakatnya semakin terasah dan mulai mendapat tempat di tim utama.

Tapi dihatinya tetap meniatkan suatu saat nanti ia harus mengabdi dan memperkuat tim Semen Padang. Bak gayung bersambut di tahun 2014 ia bergabung dengan tim utama Semen Padang. Hal ini seperti filosofi orang Minangkabau ” satinggi-tinggi tabangnyo bangau, pulangnyo kakubangan juo. Sajauah-jauah badan marantau pasti kapulang kampuang juo” yg artinya kira-kira sejauh apapun kita merantau, pasti akan pulang kampung juga.

Gol demi gol dan permainan cantik nya membuat dia sangat di idolai pecinta bola Sumatera Barat. Kerab ia menjadi penentu kemenangan bagi tim Kabau Sirah. Singkat cerita prahara terjadi di tahun 2017, tim kebanggaan urang awak ini mesti turun kasta alias terdegradasi ke kompetisi Liga 2 karena hanya mampu finis di urutan 16 Liga 1 tahun itu.

Loyalitas pemain sangat diuji oleh keadaan ini. Satu persatu pemain bintang mulai meninggalkan Semen Padang FC. Sebut saja Vendry Mofu, Nur Iskandar, Novan Setyasasongko, Riko Simanjuntak dan lain-lain. Termasuk punggawa asing karena terbentur regulasi bahwa tim peserta Liga 2 tidak diperbolehkan memakai pemain asing.

Tak banyak pemain yang tinggal memilih setia dengan Semen Padang, salah satunya Irsyad Maulana. Sempat di lirik Sriwijaya Fc yang dilatih Rahmad Darmawan bekas mentornya di Pelita dan Arema, ia memilih untuk bertahan. Namun isu yang berkembang kala itu kurang mengenakkan bagi Irsyad, sebab ia bertahan di Semen Padang dikarenakan bakal dijanjikan menjadi karyawan PT. Semen Padang.

Dengan cepat Irsyad membantah jika dia bertahan lantaran di iming-imingi menjadi karyawan PT. Semen Padang. ” Saya memilih bertahan karena ini masalah hati ( kecintaan pada SPFC) bukannya seperti isu yang berkembang saat ini” kata Irsyad (dikutip dari goal.com)

Hal senada juga dituturkan Agung Prasetyo salah satu pemain yang memilih bertahan di skuad Kabau Sirah.

Sekarang ia telah mambuktikan kesetiaanya, dan Semen Padang pun dibawanya kembali kekasta tertinggi Liga Indonesia. Tak butuh berlama-lama di Liga 2, tahun ini 2019 Semen Padang akan kembali berlaga di Liga 1, hal ini tak lepas dari penampilan cemerlangnya di Liga 2 tahun kemaren, gol – golnya bahkan mengantarkan Semen Padang ke laga final Liga 2 melawan PSS Sleman.

Kini setelah Hengki Ardilles sang kapten memutuskan untuk pensiun, beban sebagai kapten bakal disandang Irsyad Maulana. Hal itu terlihat saat laga Piala Indonesia melawan PS. TIRA. Dan dapat dipastikan dilaga-laga berikutnya ban kapten tetap melingkar di lengannya.

Terima kasih calon legenda, kau telah membuktikan kesetiaanmu kepada Semen Padang Fc klub kebanggaan ranah minang. Ya legenda itu bernama IM 88.