Pada Liga 2 musim lalu, lini pertahanan Semen Padang FC tidak bisa dibilang tampil solid. Pada babak penyisihan saja, mereka kebobolan 22 gol dari 22 pertandingan. Artinya tim berjuluk Kabau Sirah itu kebobolan satu gol setiap satu laga.

Rata-rata kebobolan Kabau Sirah per pertandingan semakin besar di babak delapan besar. Dari enam laga tim asuhan Syafrianto Rusli tersebut, kebobolan 11 kali. Ditambah kebobolan empat kali di laga semifinal dan final, total sepanjang Liga 2 musim lalu mereka kebobolan sebanyak 37 gol dari 31 pertandingan.

Kondisi ini disadari manajemen dan tim pelatih. Jelang berkompetisi di level yang lebih tinggi tahun ini, yakni Liga 1. Komposisi lini belakang pun dibongkar habis.

Mulai dari mendatangkan Teja Paku Alam sebagai penjaga gawang, lalu tim kebanggaan Urang Awak itu mendatangkan Syaiful Indra Cahya, Muhammad Rifqi, Roni Rosadi, Shukurali Pulatov dan Boaz Atururi. Mereka melengkapi empat pemain belakang yang di pertahankan, yakni Novrianto, Syaeful Anwar, Leo Guntara dan Agung Prasetyo yang sepanjang musim lalu tak bermain karena cidera lutut.

Hanya saja sayangnya bongkar pasang komposisi pemain di lini belakang itu belum membuahkan hasil. Sepanjang tahun ini, Semen Padang FC sudah menjalani empat laga. Yakni dua laga di ajang Piala Indonesia, satu laga ujicoba dan satu laga di Piala Presiden 2019.

Namun hasilnya lini belakang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) paling besar tim pelatih untuk dibenahi. Sebab pertahanan mereka pun terlihat rapuh dengan kebobolan sembilan gol. Kabau Sirah pun belum pernah mengecap kemenangan dari empat laga tersebut. Mereka hanya mencatatkan satu kali hasil imbang dan tiga kali kalah.

Dari empat laga itu kebobolan terbanyak dalam satu laga dirasakan Agung Prasetyo CS, kemaren sore, Minggu (3/3). Pada laga kontra Bhayangkara FC dalam babak penyisihan Grup B Piala Presiden 2019 di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi.

Dalam laga itu mereka kebobolan empat gol. Masing-masing lewat Salles menit ke 9, Dendi Sulistiawan 67, Ilham Udin 78, dan Hargianto 88. Semen Padang FC hanya mampu membalas dua gol Juffo 63 dan Zitte 89.

Empat gol yang bersarang kegawang Semen Padang FC, tak lepas dari buruknya peforma pemain mereka di lini belakang. Dalam banyak kesempatan dengan mudah lini serang Bhayangkara FC membongkar pertahanan Semen Padang FC. Baik dari sisi kanan, kiri ataupun tengah. Beruntung kebobolan yang diderita tidak lebih banyak karena Teja Paku Alam berhasil melakukan sejumlah penyelamatan gemilang.

Dalam sesi jumpa pers usai laga, pelatih kepala Semen Padang FC, Syafrianto Rusli (SR) mengungkapkan, persoalan di lini belakangnya adalah koordinasi antar pemain yang kurang bagus. Namun dia tidak sepenuhnya menyalahkan pemain belakangnya.

“Kenapa terjadi serangan dari awal, dari depan selalu sekali ambil. Jadi memang ada rentetannya. Nanti itu yang akan kita perbaiki,” jelas SR

Untuk laga berikutnya mantan punggawa Semen Padang era Galatama itu yakin anak asuhnya bisa berbuat lebih baik lagi. Hal serupa diungkapkan Teja Paku Alam. ” Sisa dua pertandingan lagi mudah-mudahan kita bisa mengevaluasi,” ungkapnya.

Dengan kelemahan yang tampak di lini belakang tersebut, apakah Semen Padang FC akan mencari pemain tambahan. “Saat ini kita masih ditahap penyusunan kerangka tim. Kelemahan diseluruh lini memang masih ada, tapi kita akan terus berbenah. Terjadinya proses gol, tidak semerta – merta menjadi kesalaham lini tertentu saja. Ini kesalahan kolektif.” Jawab Rinold Thamrin. Dengan kekalahan tersebut Semen Padang FC menghuni peringkat tiga klasemen grup B Piala Presiden dengan poin nol hasil dari sekali kalah. Sedangkan Bhayangkara FC berada diperingkat dua dengan poin tiga.

Pemuncak klasemen sementara diduduki Bali United yang pada laga kemarin malam menang telak 3-0 atas Mitra Kukar, dengan demikian Mitra Kukar berada di posisi buncit.

Sumber : Padang Ekspres