Pelatih Java United FC, Fabio Lefundes, membongkar sejumlah masalah yang menyebabkan anak asuhnya kalah secara dramatis dari tuan rumah Persita Tangerang pada pekan kedua. Dalam duel yang berlangsung di Banten International Stadium, Banten, Minggu (13-9-2026), Java United FC yang sempat unggul terlebih dahulu akhirnya menyerah dengan skor 2-3.
“Kami sudah cukup mengetahui Persita dalam kondisi tertekan, dan apa yang akan mereka lakukan. Kami di awal pertandingan sebetulnya memulai cukup baik,” ujar Lefundes dalam konferensi pers seusai laga, Minggu (13-9-2026).
“Ada peluang pertama untuk kami bisa mencetak gol, tetapi tidak berhasil. Setelah itu, Persita berhasil mencetak gol karena kesalahan kami melalui satu crossing kepada pemain yang memiliki loncatan cukup tinggi,” imbuhnya.
Masalah utama Laskar Kepodang Emas, menurut Lefundes, mulai muncul setelah gelandang asing asal Jepang, Kei Hirose, harus ditarik keluar pada pertengahan babak pertama. Padahal, Kei adalah pemain penting untuk mengeksekusi strategi Java United.
“Di babak kedua, kami kehilangan Kei Hirose dan itu cukup merepotkan, karena kami memiliki satu dinamika strategi yang berjalan dengan Kei di lapangan tengah. Kami punya beberapa pilihan,” ungkap Fabio Lefundes.
“Akan tetapi, kami memilih untuk memasukkan Jonathan, yang sebenarnya bukan partner ideal untuk Tri, tetapi itu adalah keputusan yang kami ambil pada saat itu. Kami berhasil mencetak dua gol dan pertandingan cukup terkontrol oleh kami di babak pertama,” jelas mantan pelatih Borneo FC tersebut.
Sayangnya, situasi berbalik memburuk di paruh kedua. Lefundes mengkritisi sistem pertahanan timnya yang terlalu turun, yang pada akhirnya justru memberikan ruang bagi Persita untuk leluasa menekan.
“Di babak kedua, sistem pertahanan kami terlalu turun sehingga memberikan ruang kepada Persita. Kami juga kehilangan Kaio dan harus mengubah lagi strategi awal. Berdasarkan regulasi, kami hanya bisa melakukan satu kali pergantian pemain lagi,” ujarnya.
“Kami tahu bahwa dalam profesi pelatih, jika pergantian pemain membawa hasil, pelatih disebut jenius. Namun, jika pergantian itu tidak berjalan maksimal, itu adalah risiko yang harus diambil,” lanjutnya.
Selain itu, pelatih berusia 54 tahun tersebut mengeluhkan dua gol Persita yang semuanya lahir pada akhir laga melalui skema bola mati.
“Kami kebobolan dua kali lagi dari sistem bola mati. Selalu ada kemungkinan untuk diperbaiki, apalagi di menit-menit akhir saat tensi meningkat dan duel harus lebih agresif. Ada perbaikan yang harus dilakukan,” tutur Lefundes.
“Apalagi kami tahu di menit-menit akhir, bola mati adalah salah satu pilihan lawan yang sedang tertinggal. Duel kami harus lebih kuat dan akan ada koreksi ke depannya. Selamat juga untuk Alex yang masuk dan bisa mengubah pertandingan untuk Persita,” imbuh pelatih asal Brasil itu.
