Dengan pakem gaya main baru di 2026/2027, pemain Singo Edan tampil lebih spartan dengan pergerakan simultan. Taktik anyar itu sudah dipamerkan Jhon Alfaridzi dkk. pada dua pertandingan awal musim ini.
Hasilnya sungguh luar biasa. Isenmulang FC digasak telak 4-0, sementara Juku Eja dibuat kelabakan di kandang sendiri karena Arema FC selalu unggul lebih dulu, meski akhirnya kedua tim berbagi gol 3-3.
Permutasi mobilitas dengan intensitas tinggi tersebut membuat lawan sulit memilih pemain Arema FC yang harus dikunci di lapangan. Perubahan paling mencolok dari game plan baru yang dipatenkan pelatih Marcos Santos adalah produktivitas gol.
Menariknya, tujuh gol yang bersarang di gawang Isenmulang FC dan PSM dicetak oleh tujuh pemain berbeda. Jadi, di skuad Arema FC tidak ada lagi sentrisme soal mencetak gol yang hanya menjadi tugas striker.
Empat gol yang dibawa pulang saat melawan Isenmulang FC merupakan hadiah dari Jhon Alfaridzi, Diego Landis, Marcos Vinicius, dan Mauro Zijlstra. Sementara saat bertamu ke Stadion BJ Habibie Parepare, Gustavo Franca, Gabriel Silva, dan Careca meninggalkan bola di jaring PSM.
Filosofi permainan baru Arema FC ini ternyata sudah dibaca oleh pelatih Marcos Reina yang memimpin rombongan Persik untuk menyambangi kandang Arema FC, Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (18/9/2026).
“Pelatih Arema FC punya inovasi taktik baru. Dia tidak mengandalkan striker murni nomor 9 lagi. Semua pemain harus bergerak simultan di segala lini. Paling berbahaya ketika mereka masuk ke sepertiga pertahanan lawan. Di momen itu, siapa pun bisa mencetak gol,” kata Marcos Reina.
Ideologi baru Arema FC ini juga diamati oleh Gusnul Yakin. Mantan arsitek Singo Edan dan Persik ini menilai pertandingan antara dua bekas tim asuhannya tersebut akan sangat menarik.
“Kekuatan utama Arema FC ada di fisik. Makanya mereka mampu bermain simultan dengan intensitas tinggi. Tim yang punya stamina bagus yang bisa meladeni gaya Arema FC. Itu sudah ditunjukkan PSM,” ucapnya.
Tiga gol balasan PSM tercipta karena anak asuh Darije Kalezic juga tampil spartan, sementara lini belakang Arema FC terkaget dengan respons tuan rumah. “Semua taktik ada plus minusnya. Cara menyerang Arema FC sudah bagus, tapi koordinasi pertahanan masih kurang. Saya kira ini pasti dibenahi pelatih Arema FC,” ujarnya.
Lalu, apa yang bakal dilakukan Persik untuk meredam keberingasan penggawa Singo Edan? “Pemain Persik harus sabar dan jangan ikuti pakem Arema FC. Persik harus bisa memainkan tempo saat menguasai bola,” jelasnya.
Resep berikutnya, lanjut Gusnul Yakin, jarak antarpemain Persik juga harus rapat dan jangan memberi celah kepada lawan. “Cara mengantisipasinya, jarak pemain harus rapat dan jangan ada celah karena semua pemain Arema FC berbahaya. Pertanyaannya, apakah pemain Persik punya fisik prima meladeni gaya Arema FC?”
Lepas dari taktik kedua tim, Gusnul Yakin sangat menyukai cara main Arema FC dan Persik. “Dua tim ini bagus. Saya suka pakem mereka. Terutama Arema FC yang saya amati mulai kembali ke gaya Malangan seperti dulu: spartan dan militan,” tuturnya.
