Market Value Timnas Indonesia Teratas di FIFA ASEAN Cup 2026, Pengamat: Tak Jaminan Jadi Juara

Timnas Indonesia menjadi kontestan dengan nilai pasar tertinggi di antara delapan peserta Divisi 1. Namun, skuad dengan banderol termahal tidak otomatis membuat Timnas Garuda menjadi juara pada turnamen perdana yang digagas FIFA dan AFC tersebut. Berdasarkan data Transfermarkt, total nilai pasar Timnas Indonesia mencapai Rp377,79 miliar.

Thailand berada di posisi kedua dengan nilai Rp159,09 miliar, disusul Malaysia yang memiliki nilai Rp120,37 miliar. Bangladesh, yang menjadi tim undangan sekaligus calon lawan Timnas Indonesia, memiliki nilai pasar Rp115,15 miliar.

Berikutnya ada Vietnam dengan Rp111,24 miliar, Pakistan Rp76,04 miliar, Filipina Rp68,22 miliar, dan Singapura Rp59,10 miliar.

Pengamat sepak bola asal Malaysia, Raja Isa Raja Akram Shah, menilai nilai pasar merupakan bagian dari perkembangan sepak bola sebagai industri. Menurutnya, setiap pemain memiliki nilai berdasarkan pengalaman dan kualitas yang dimiliki. “Di era bisnis dan industri global, semua sektor dinilai dengan materi. Nilainya dikonversi menjadi harga dan mata uang. Begitu pula di sepak bola. Tiap pemain punya nilai pasar berdasarkan pengalaman dan kualitas mereka,” kata Raja Isa.

Mantan pelatih PSM Makassar dan Persipura Jayapura itu menyebut market value juga berkaitan dengan aspek bisnis dan promosi sepak bola. “Menurut saya, market value ini adalah usaha pemasaran dan promosi supaya sepak bola makin kompetitif dan menjadikan olahraga ini nomor satu di dunia. Market value juga memudahkan klub saat belanja pemain karena disesuaikan dengan anggaran mereka secara detail,” jelasnya.

Kendati berada di posisi teratas dalam market value, Raja Isa menilai Timnas Indonesia tetap tidak bisa menjadikan angka tersebut sebagai jaminan untuk menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. “Nilai pasar yang dimiliki sebuah tim tidak bisa dijadikan jaminan pasti juara. Pemain yang berharga mahal itu harus membentuk tim yang solid dalam pertandingan. Saya kira skuad mewah Indonesia pun belum tentu juara,” ujarnya.

Ia kemudian mengambil contoh dari Piala Dunia 2026. Menurut Raja Isa, turnamen elite tersebut menunjukkan bahwa tim dengan nilai pasar lebih rendah tetap mampu menyulitkan lawan yang memiliki skuad lebih mahal. “Contoh terbaik Piala Dunia kemarin. Ada tim-tim kecil bernilai pasar kecil yang bisa mengalahkan negara dengan harga lebih tinggi. Siapa menduga Cape Verde mampu menyulitkan Spanyol dan Argentina yang akhirnya menjadi finalis Piala Dunia 2026,” ucapnya.

Jika hanya melihat market value, Thailand dan Malaysia menjadi pesaing terdekat Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026. Namun, Raja Isa menilai Vietnam tetap harus diperhitungkan, meski nilai pasarnya hanya berada di urutan kelima. Vietnam datang sebagai juara Piala AFF 2026.

Menurut Raja Isa, tradisi juara dan soliditas tim membuat Vietnam tidak bisa dipandang sebelah mata. “Saya kira target Timnas Indonesia juara di FIFA ASEAN Cup ini lebih berat daripada Piala AFF. Thailand, Vietnam, dan Malaysia akan mengerahkan kekuatan terbaiknya dibandingkan saat Piala AFF 2026. Kita juga tidak tahu apakah Singapura bisa memberikan kejutan, termasuk tim undangan seperti Bangladesh dan Pakistan,” tuturnya.

Mantan pelatih Persiram Raja Ampat itu menilai beban Timnas Indonesia kali ini juga lebih besar. “Ekspektasi dan target juara menjadi beban bagi Timnas Indonesia. Apalagi mereka menjadi tuan rumah, ditambah lagi trauma kegagalan di Piala AFF 2026. Jadi, Timnas Indonesia tidak terlalu percaya diri hanya dengan mengandalkan market value ini,” ucapnya.

Di sisi lain, nilai pasar tetap dapat memberikan pengaruh secara psikologis kepada pemain. Raja Isa menilai status tersebut bisa menjadi dorongan bagi pemain Timnas Indonesia untuk menunjukkan bahwa banderol mereka sejalan dengan kualitas di lapangan.

“Dari sisi psikologis, pemain-pemain Indonesia akan merasa percaya diri karena mereka bermain di rumah sendiri dan banyak yang berkarier di Liga Eropa. Tim psikolog Timnas Indonesia harus bisa mengelola kelebihan ini menjadi kekuatan tim,” ujarnya.

Selain menghadapi tantangan dari para lawan, Raja Isa menilai Timnas Indonesia harus mampu mengelola tekanan dari media dan publik. “Selain tantangan lawan di lapangan, tantangannya adalah bagaimana Timnas Garuda menghadapi tekanan media dan warganet Indonesia yang terkenal galak,” ucap pengamat sepak bola yang dikenal ramah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *