Pertandingan dengan sistem kompetisi dan turnamen memiliki karakter yang berbeda. Sistem turnamen dengan jadwal yang sangat padat tidaklah mudah dijalani oleh semua peserta. Oleh karena itu, pelatih bertugas mengatur bioritme anak asuhnya agar mampu tampil stabil di setiap pertandingan.
Hal ini termasuk upaya John Herdman dalam menjaga kebugaran Kevin Diks dan kawan-kawan agar tetap prima saat menghadapi Singapura, yang berhasil dikalahkan dengan skor 2-0. Para pemain harus dalam kondisi siap tempur untuk menghadapi Malaysia pada 28 September dan Bangladesh pada 1 Oktober mendatang.
Meski Tim Garuda berhasil mengalahkan The Lions, banyak kritik yang mengalir. Sorotan utama tertuju pada materi pemain diaspora dan kondisi fisik yang dinilai menurun di lapangan.
Terkait masalah stamina, Thom Haye yang masuk menggantikan Ragnar Oratmangoen pada menit ke-64 mengungkapkan bahwa kesiapan fisik seluruh pemain menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan Timnas Indonesia di turnamen ini.
“Kondisi fisik sejauh ini bagus. Jadwal pertandingan sangat padat dengan jeda singkat, jadi pelatih harus memastikan seluruh pemain berada dalam kondisi bugar. Ada kemungkinan rotasi pemain di pertandingan-pertandingan berikutnya untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tim,” ujar Haye, Sabtu (26/9/2026).
Gusnul Yakin mendukung pernyataan pemain Timnas Indonesia yang dijuluki “Sang Profesor” tersebut. “Siapa pun yang pernah berkecimpung di sepak bola pasti paham cara mempersiapkan fisik pemain dan ajang yang akan diikuti. Turnamen lebih sulit karena tiap pemain harus siap tampil dengan jadwal mepet. Jadi, ucapan Thom Haye itu benar,” katanya.
Pengamat sepak bola senior asal Malang ini tidak setuju dengan pendapat banyak kalangan yang mengkritik fisik pemain Timnas Indonesia. Ia menilai pemain berkaliber Liga Eropa tersebut tidak seharusnya kepayahan saat menghadapi Singapura.
“Mereka pemain profesional dan bermain di Eropa. Jadi, mereka lebih tahu bagaimana cara bermain di lapangan serta mengatur energi agar tetap maksimal dan memiliki tenaga untuk pertandingan berikutnya,” jelasnya.
Gusnul Yakin justru menilai para pemain tersebut sangat pintar. Mereka tidak memforsir tenaga saat melawan Singapura karena masih ada partai kontra Malaysia dan Bangladesh.
“Kalau di pertandingan awal tenaga sudah dikuras, pada partai berikutnya tenaga pasti turun lebih drastis lagi. Jika Timnas Indonesia masuk ke babak final, tenaga mereka bisa habis,” jelasnya.
Mantan pelatih Arema ini juga menjelaskan faktor kelelahan pemain akibat penerbangan jauh dari Eropa ke Jakarta. “Sejak era naturalisasi Shin Tae-yong hingga sekarang, saya sering membahas soal jetlag ini. Dengan jadwal padat, kebugaran pasti menjadi kendala bagi pemain dari Liga Eropa,” ujar Gusnul Yakin.
“Mereka sudah tampil terbaik melawan Singapura. Saya anggap pemain pintar karena tidak bermain terlalu ngotot. Misi utamanya adalah bagaimana meraih kemenangan, meskipun penampilan mereka dinilai kurang maksimal oleh banyak orang,” lanjutnya.
