KOLOM: Timnas Indonesia Vs Thailand, Ketika Kejutan Musiman Bertemu Struktur

Saya berada di tribun dalam dua momen paling krusial pada final yang melibatkan Indonesia melawan Thailand di tempat yang sama, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Pertama, perebutan emas SEA Games 1997 ketika saat itu Indonesia kalah dalam adu penalti. Kedua, perebutan gelar Piala Tiger (sekarang Piala AFF) 2002, dan lagi-lagi Indonesia kalah adu penalti dari Thailand.

Indonesia akan kembali bertemu dengan Thailand di SUGBK malam nanti pada final gelaran perdana FIFA ASEAN Cup 2026, nyaris 29 tahun setelah final yang menggetarkan pada 1997. Mengapa momen itu disebut menggetarkan? Bagi mereka yang hadir di SUGBK kala itu, terutama pada bulan Oktober, atmosfernya sungguh luar biasa.

Stadion penuh sesak oleh manusia, baik di tribun bawah maupun atas. Perkiraan jumlah penonton mencapai lebih dari 100 ribu orang. Karena tiket digratiskan, penonton terus mengalir ke Senayan sejak siang hari.

Ketika itu, emas sepak bola SEA Games menjadi simbol supremasi sepak bola Asia Tenggara. Belum ada pembatasan umur di cabang sepak bola SEA Games, dan Piala Tiger pun belum populer karena baru dimulai setahun sebelumnya.

Di dalam stadion yang penuh sesak tersebut, pengamanan ketat sekalipun tidak mampu mencegah masuknya barang terlarang seperti flare ke tribun. Jeda pertandingan sempat terhenti karena kemarahan penonton. Setelah kalah adu penalti, penonton meluapkan kemarahan dengan membakar benda-benda di tribun. Api menyala di mana-mana; pemandangan yang sangat mengerikan.

Ketika SUGBK kembali menjadi tuan rumah final melawan Thailand pada 2002 dalam ajang Piala Tiger, antusiasme pendukung timnas tidak kalah meledak dibandingkan lima tahun sebelumnya. Jika pada 1997 Indonesia kalah adu penalti dengan skor 3-5 (hasil imbang 1-1), pada 2002 Indonesia kalah 4-6 (hasil imbang 2-2).

Dalam kedua laga tersebut, selalu ada dua pemain Indonesia yang gagal mengeksekusi penalti. Pada 1997, kegagalan itu dialami Uston Nawawi dan Ronny Wabia, sedangkan pada 2002 adalah Bejo Sugiyantoro dan Firmansyah. Pertandingan Indonesia melawan Thailand kini telah menjadi salah satu laga klasik di Asia Tenggara.

Secara jumlah gelar, Thailand jauh lebih mendominasi, baik di SEA Games maupun Piala AFF (dahulu Piala Tiger). Namun, Indonesia tidak bisa dipandang remeh begitu saja oleh Thailand. Pada final SEA Games 1991, misalnya, Indonesia mampu mengalahkan Thailand lewat adu penalti.

Dominasi Thailand dapat digambarkan dari jumlah emas sepak bola sejak SEA Games dimulai pada 1977 hingga terakhir kali adanya pembatasan umur pada 2015, yang mencapai 13 gelar dibandingkan Indonesia yang hanya meraih dua emas (1987 dan 1991). Begitu pula dengan gelar Piala AFF; Thailand telah menjadi juara tujuh kali, sedangkan Indonesia belum pernah juara meski sudah enam kali mencapai final.

Maka, dalam catatan sejarah pertemuan keduanya, Negeri Gajah Putih sebenarnya jauh lebih mendominasi. Jika disederhanakan, laga Indonesia vs. Thailand adalah pertarungan antara prestasi musiman melawan prestasi berkelanjutan (burst vs. structure). Indonesia hanya sesekali mengeluarkan pukulan musiman melawan sebuah sistem yang rapi dan bertahan lama.

Prestasi musiman ini muncul karena adanya generasi emas yang hadir secara berkala. Misalnya, tahun 1997 datang sebagai kelanjutan sukses Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia 1996. Sementara itu, final 2002 lahir dari generasi matang pemain Primavera atau Baretti.

Jika harus jujur, secara prestasi jelas Thailand jauh lebih established dibandingkan Indonesia. Menarik untuk mengulas bagaimana Thailand mampu menciptakan struktur prestasi yang berkelanjutan, dan bagaimana Indonesia memiliki potensi sangat kuat untuk menciptakan struktur yang tidak hanya bersifat musiman.

Titik awal Thailand adalah membangun liga profesional pada 1996. Bagi mereka, tahun itu bukan sekadar permulaan kompetisi, melainkan awal mula kebiasaan pemain bertanding secara rutin, klub belajar mengelola keuangan, dan sepak bola mulai memiliki penonton yang bersedia membayar.

Dari situ, lahir generasi yang masih diingat hingga sekarang. Vittaya Laohakul menjadi kapten sekaligus otak permainan saat Thailand mulai disegani di SEA Games, yang kemudian dilanjutkan oleh era Piyapong Pue-on. Kiatisuk Senamuang kemudian membawa sepak bola Thailand masuk ke dalam budaya populer.

Kiatisuk, yang dijuluki “Zico”, menjadi pesepak bola langka di Asia Tenggara yang pernah bermain di Inggris bersama Huddersfield. Yang menarik, ia tidak berhenti hanya sebagai ikon. Ia kembali sebagai pelatih dan mengantar Thailand menjuarai Piala AFF 2014 dan 2016.

Di Thailand, bintang generasi lama tidak hilang begitu saja, melainkan kembali dan menjadi bagian dari sistem. Pengetahuan diwariskan secara berkelanjutan, bukan dimulai dari nol setiap kali siklus berganti. Selain Kiatisuk, Vittaya Laohakul juga pernah menjabat sebagai direktur teknik timnas Thailand. Hasilnya terlihat jelas dalam angka.

Thailand memegang rekor emas sepak bola putra SEA Games terbanyak di kawasan dan telah mengoleksi tujuh gelar Piala AFF. Selama lebih dari dua dekade, meskipun generasi berganti, Thailand tidak pernah berhenti menjadi “pabrik” pemain.

Nama-nama besar selalu bermunculan, mulai dari Sutin dan Surak Chaikitti, Dusit Chalermsan, hingga Therdsak Chaiman. Pabrik pemain tersebut ditopang oleh beberapa faktor penting. Pertama, klub-klub Thailand memiliki modal kuat seperti Buriram United dan Muangthong United, lengkap dengan stadion dan akademi sendiri. Kedua, federasi mereka memiliki kekuatan bisnis dan citra yang baik.

Selanjutnya, Thailand juga membangun jalur menuju Jepang. Pemain seperti Chanathip Songkrasin dan Teerasil Dangda membawa standar J-League ke tim nasional. Pemain yang rutin menghadapi tempo dan disiplin liga Jepang membuat level rata-rata pemain Thailand meningkat, bukan hanya level bintangnya saja.

Namun, jangan terburu-buru memuja. Struktur belum menjamin kemenangan abadi, dan angka terbaru membuktikannya. Emas SEA Games terakhir Thailand diraih di Malaysia pada 2017 saat mengalahkan tuan rumah 1-0 di final. Setelah itu, emas jatuh ke tangan Vietnam pada 2019 dan 2021.

Pada 2023, Thailand kalah 2-5 dari Indonesia di final. Kemudian pada 2025, di rumah sendiri, Thailand kalah 2-3 dari Vietnam di final setelah sempat unggul 2-0. Ini adalah pertama kalinya sejak 1967 Thailand gagal membawa pulang emas saat menjadi tuan rumah. Di level senior, final Piala AFF 2024 juga dimenangkan oleh Vietnam.

Pelajaran penting dari fenomena ini adalah: struktur Thailand tidak runtuh, tetapi keunggulannya mulai menyempit karena negara tetangga mulai membangun sistem mereka sendiri. Vietnam menunjukkan hal itu lebih dulu, sementara Indonesia sedang menunjukkan jalur yang berbeda.

Indonesia memiliki dua emas SEA Games pada 1987 dan 1991, dan kini menambah tiga emas dengan raihan pada 2023. Meskipun telah enam kali mencapai final Piala AFF, Indonesia belum pernah menjadi juara. Final 1997 dan 2002 yang saya saksikan di Senayan memiliki pola yang sama: generasi matang datang, tampil nyaris sempurna, lalu kalah di titik paling tipis, yaitu adu penalti.

Pola tersebut terlalu sering berulang untuk sekadar disebut sebagai nasib. Penjelasannya sederhana namun mungkin tidak enak didengar: kita sering memiliki generasi, tetapi jarang memiliki sistem. Generasi 1997 lahir dari suksesnya lolos ke Piala Asia 1996, sementara generasi 2002 matang dari pemain didikan Primavera dan Baretti.

Keduanya adalah cerita yang membanggakan, tetapi keduanya merupakan program khusus yang kemudian berhenti, bukan sebuah sistem yang terus bekerja. Ketika program berhenti, maka burst pun hilang. Oleh karena itu, keberhasilan tahun 2023 layak dicatat sekaligus diuji.

Mengalahkan Thailand 5-2 di final adalah bukti bahwa burst bisa mengalahkan struktur dalam satu malam. Pertanyaannya, apakah ini menjadi awal dari sesuatu yang bertahan dan dapat terulang pada 2026? Ada alasan untuk tetap optimis namun waspada.

Indonesia kini mengambil jalan percepatan melalui diaspora dan naturalisasi. Pemain yang besar dalam sistem Eropa membawa kualitas dan standar yang tidak mungkin dibentuk dalam semalam oleh akademi maupun kompetisi domestik. Naturalisasi menaikkan “atap”, bukan “lantai”.

Hal ini membuat tim nasional lebih tajam hari ini, tetapi tidak secara otomatis memperbaiki liga, wasit, lapangan, kurikulum pelatih, serta kompetisi usia muda yang akan menentukan masa depan tim nasional sepuluh tahun lagi. Thailand pun memakai talenta yang dibesarkan di luar, seperti di Jepang, namun mereka mengimpor pengalaman tersebut ke dalam sistem yang sudah ada, bukan untuk menggantikan sistem.

Modal Indonesia sebenarnya sangat besar: populasi raksasa, penonton paling fanatik di kawasan, serta stadion yang bisa bergemuruh seperti yang saya rasakan di Senayan. Yang belum kita miliki adalah kesabaran untuk membangun hal-hal yang tidak terlihat di televisi, seperti liga usia muda yang rutin, pelatih bersertifikat hingga tingkat bawah, dan manajemen klub yang sehat secara bisnis.

Itu adalah pekerjaan yang membosankan, tetapi justru di situlah Thailand terasa unggul. Jadi, apa pun hasil malam ini, saya ingin mengajukan ukuran yang lebih jujur daripada sekadar skor akhir. Menang atau kalah, tanyakan satu hal: apakah sepuluh tahun lagi kita masih akan membicarakan hal ini?

Jika Indonesia menang, jangan rayakan sebagai akhir. Rayakanlah sebagai kesempatan untuk bertanya apa yang akan dibangun dengan momentum ini. Jika kalah, jangan lagi menyebutnya sebagai kesialan. Tanyakan sistem apa yang belum kita miliki, karena kekalahan tahun 1997 dan 2002 sudah memberi jawaban sebanyak dua kali.

Perbedaan antara Indonesia dan Thailand pada akhirnya bukan soal siapa yang lebih berbakat. Tidak ada yang bisa mengatakan Indonesia kekurangan bakat. Perbedaannya adalah siapa yang lebih sabar menyiapkan hal-hal yang tidak terlihat.

Kejutan membuat stadion bergemuruh sesaat, tetapi struktur membuat stadion tetap terisi selama puluhan tahun. Malam ini kita boleh berharap pada kejutan, tetapi besok pagi kita harus mulai membangun struktur.

Titis Widyatmoko
Penulis adalah Editor in Chief Liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *