Pelatih Pieter Huistra mengungkapkan sejumlah faktor yang membuat performa timnya mulai menunjukkan peningkatan dalam tiga laga terakhir musim 2026/2027. PSS sempat mengawali kompetisi dengan hasil kurang memuaskan. Pada tiga pertandingan pertama, tim berjuluk Super Elang Jawa tersebut menelan tiga kekalahan beruntun.
Performa PSS perlahan memperlihatkan perkembangan selepas jeda kompetisi. Mereka berhasil membungkam PSM Makassar 3-0, kemudian menahan imbang Persebaya Surabaya dengan skor 2-2. Sayangnya, tren positif tersebut tidak berlanjut setelah PSS takluk 1-2 dari Persik Kediri pada pekan keenam di Stadion Brawijaya, Kediri, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026).
“Kami melewati pramusim yang sulit. Kami memiliki beberapa kendala terkait kontrak pemain, sehingga pramusim kami tidak ideal. Kami tahu pemain-pemain kami cukup bagus untuk bertahan bersama PSS dan bersaing dengan semua tim,” ujar Huistra.
“Jeda internasional sangat penting bagi kami. Pada jeda tersebut, kami memiliki waktu tiga minggu untuk berlatih sangat keras, di mana setiap pemain menekan tombol reset,” lanjutnya.
Huistra menyebut jeda FIFA Matchday sebagai pramusim sesungguhnya bagi PSS. Pada periode tersebut, pemain memiliki kesempatan lebih banyak untuk memahami pendekatan permainan yang diinginkan pelatih.
“Jadi, itulah pramusim kami yang sebenarnya, yaitu saat jeda FIFA. Setelah itu, kami bermain jauh lebih baik, kondisi fisik kami jauh lebih bugar, dan semua orang memahami bagaimana kami ingin bermain,” katanya.
“Sekarang secara perlahan, saya mulai melihat tim yang saya bayangkan. Kami masih bisa melakukan yang lebih baik, kami masih harus berbenah,” imbuh Huistra.
“Kami masih memiliki beberapa pemain cedera yang sedang dalam proses pemulihan, jadi kami akan menjadi lebih kuat dengan kembalinya mereka. Tiga minggu kemarin sangatlah penting,” tambahnya.
Selain persiapan yang kurang ideal, Huistra juga menyoroti tantangan yang dihadapi klub promosi seperti PSS ketika berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
“Ketika Anda naik kelas dari Liga 2 ke Liga 1 atau Super League, perbedaan besarnya terletak pada pemain asing. Di Liga 2 Anda hanya boleh memiliki tiga pemain asing, sedangkan di Super League Anda bisa memiliki hingga 11 pemain,” tuturnya.
“Jadi, sangat penting seluruh proses pemantauan (scouting), mendapatkan pemain yang tepat, serta memiliki visi tentang bagaimana Anda ingin bermain. Hal itulah yang membuat semua tim promosi merasa sedikit lebih sulit,” tambah Huistra.
Saat ini, Laskar Sembada menempati peringkat ke-15 klasemen sementara BRI Super League dengan koleksi empat poin. Hasil tersebut merupakan akumulasi dari satu kemenangan, satu imbang, dan empat kekalahan.
