Bermain di Gelora Bung Tomo menghadapi klub yang membesarkan namanya bukan perkara mudah bagi Andik. Bahkan, ia mengaku harus berjuang melawan beban emosional sejak malam sebelum pertandingan.
Andik merasakan situasi berbeda ketika Garudayaksa FC bertandang ke markas Persebaya Surabaya pada pekan ketiga BRI Super League 2026/2027, Sabtu (19-9-2026). Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) bukanlah tempat asing bagi Andik.
Di stadion inilah namanya tumbuh hingga kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan perjalanan karier ke luar negeri. Pertandingan kali ini pun memiliki arti khusus karena Andik tidak sekadar datang sebagai mantan pemain.
Ia dipercaya menjadi starter sekaligus mengenakan ban kapten Garudayaksa FC di hadapan ribuan suporter Bonek. Tidak mengherankan jika tekanan tersebut sudah terasa bahkan sebelum pertandingan dimulai.
“Jujur, semalam saya susah tidur. Ini salah satu tantangan yang sangat berat buat saya. Apalagi saya kemarin sempat terjun ke Liga 2 selama tiga tahun,” kata Andik setelah pertandingan.
Pengalaman menghadapi Persebaya sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi Andik. Ia pernah bertemu Bajul Ijo ketika membela Madura United. Namun, tampil sebagai kapten dan starter di GBT kali ini menghadirkan tekanan yang berbeda.
“Terakhir mungkin saya membela Madura (United) dan main melawan Persebaya di sini (GBT). Itu tantangan yang sangat besar buat saya,” tambah Andik.
Andik memang memiliki sejarah panjang bersama Persebaya. Pemain asli Surabaya itu dibesarkan oleh tim Bajul Ijo sebelum kemudian melanjutkan kariernya di Malaysia selama lima tahun.
Setelah kembali ke Indonesia, Andik memperkuat Madura United pada musim 2018/2019. Ia kemudian menjadi bagian dari Bhayangkara FC pada periode 2020 hingga 2022/2023, sebelum melanjutkan perjalanan bersama Persiraja Banda Aceh selama dua musim.
Sejak musim 2025/2026, Andik menjadi bagian dari Garudayaksa FC dan kembali memperpanjang kebersamaannya pada musim 2026/2027. Di tengah perjalanan kariernya, namanya juga beberapa kali dikaitkan dengan kemungkinan kembali ke Persebaya, meski hingga kini belum terwujud.
Momen spesial di GBT makin lengkap karena Andik mampu menjalankan tugas sebagai kapten dengan baik. Garudayaksa bahkan berhasil membawa pulang satu poin setelah pertandingan berakhir imbang 1-1.
“Ini juga salah satu momen main melawan Persebaya pertama kali saya menjadi pemain inti, lalu mengenakan ban kapten di hadapan suporter Bonek yang sangat luar biasa ini,” ucap pemain kelahiran Jember itu.
Persebaya sempat unggul setelah Alex Martins mencetak gol pada menit ke-85. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama lantaran Hamra Hehanussa menyamakan kedudukan pada menit ke-89.
“Alhamdulillah, saya bisa mengontrol semuanya dan dapat poin di sini,” tambah pemain berusia 34 tahun tersebut.
Tantangan Andik tidak berhenti pada aspek emosional. Ketika menguasai bola, ia juga harus menghadapi respons dari sebagian suporter tuan rumah yang memberikan tekanan dari tribun GBT.
Namun, eks winger Selangor dan Kedah itu memilih untuk tetap tenang. Ia berusaha menjadikan suara dari tribun sebagai bagian dari atmosfer pertandingan.
“Itu hal yang sangat lumrah, biasa terjadi di mana-mana. Terus bagaimana caranya saya menghadapi, saya alihkan ke suporter saya, saya ingat-ingat dulu seperti itulah,” ujar Andik.
