Ketua Komite Wasit melontarkan imbauan tegas kepada seluruh elemen tim, mulai dari pemain hingga jajaran pelatih. Mereka diminta untuk tetap tenang dan tidak mengintimidasi wasit yang sedang bertugas, terutama ketika proses pengecekan Video Assistant Referee (VAR) berlangsung di lapangan.
Yoshimi Ogawa menilai bahwa aksi protes berlebihan dan tekanan bertubi-tubi dari ofisial maupun pemain justru berpotensi merusak jalannya pertandingan. Hal ini dikarenakan wasit membutuhkan fokus tinggi untuk mengambil keputusan yang tepat.
Menurut Yoshimi Ogawa, pemandangan pemain atau pelatih yang langsung mengerumuni pengadil lapangan saat meninjau insiden masih kerap terjadi. Padahal, pada momen krusial tersebut, wasit membutuhkan ruang untuk berkomunikasi secara jernih dengan petugas di ruang VAR.
“Terkadang kami perlu meminta ofisial tim atau pemain untuk menjauh dari wasit. Misalnya saat VAR sedang memeriksa, karena wasit perlu berkomunikasi. Namun, masih banyak pemain yang tetap mendekat,” kata Yoshimi Ogawa, Sabtu (24/10/2026).
Yoshimi Ogawa menambahkan bahwa kerumunan dan tekanan emosional tersebut membuat proses diskusi antara wasit dan ruang VAR terhambat. Dampaknya, waktu pertandingan banyak terbuang dan ritme permainan menjadi berantakan.
Tekanan dari pemain dan ofisial juga dapat membuat suasana pertandingan menjadi tidak kondusif, bahkan berisiko memancing emosi suporter di stadion. “Hal ini benar-benar membuat tempo pertandingan menjadi tidak bagus,” tegas pria asal Jepang tersebut.
Lebih lanjut, Yoshimi Ogawa mengingatkan bahwa wasit sebenarnya dibekali kewenangan penuh untuk mengambil tindakan tegas di lapangan terhadap siapa saja yang mencoba mengganggu kinerjanya. Sanksi disiplin siap dijatuhkan jika batas toleransi sudah dilanggar.
“Sebenarnya, terkadang wasit perlu menggunakan kewenangannya. Artinya memberikan kartu kuning atau kartu merah,” ujar Ogawa.
Meski begitu, Komite Wasit PSSI tetap mengedepankan pendekatan preventif melalui peringatan dari pihak manajemen. Mereka juga mengimbau seluruh klub untuk mengontrol emosi demi menjaga kualitas pertandingan di kompetisi domestik.
